Margawindu : Disatukan Tenda dan Diiringi Tarian Elang (X Pertama)

Margawindu : Disatukan Tenda dan Diiringi Tarian Elang (X Pertama)

Pagi hari dimargawindu ada satu waktu yang membuatku tak dapat melupakanya, “ini tentang Kebersamaan Kita.”

Pagi merupakan awal hari, namun kita justru mengakhirinya, menutup pengembaraan pertama, bersama. Dan ingatlah ketika ada yang Pertama setidaknya mungkin ada yang “Kedua”, hanya kita saja yang tau itu semua.

Bukit dan jurang selalu mengawasi, lereng dan perkebunan teh menjadi saksinya. Saksi sejarah bahwa kita pernah bersama, disana.

Menggenapkan yang satu, Lalu mulai berhimpun. Menanggalkan gemerlapnya kota, serta berlari darinya.

Anehnya kita justru memilih memeluk alam, menjejakkan kaki di bumi pasundan.

Sebuah kota yang mahsur dengan senjata kujangnya, sebuah kerajaan yang pernah menjadi bagian kekuasaan prabu siliwangi sekaligus jatuh dalam pelukan kesultanan cirebon dibawah kepemimpinan syarif hidayatullah, pemimpin para wali kala itu.

Baiklah sahabat, Kita kembali ke paragraf pertama diatas.
Tahukah kalian moment apa yang tak bisa kulupakan ?
Bisa jadi kalian tidak setuju dengan pendapatku ini, itu semua bukanlah yang terpenting. Setidaknya ijinkan aku mengajak kalian mengingat kembali moment ini.

Gambar Elang Margawindu 2

Sumedang – Pagi yang mengawali hari, sekaligus menutup dan mengakhiri pengembaraan pertama kita yang penuh cerita.
Alam mengiringi niat kepergian kita, yang ternyata pergi untuk kembali lagi.

Ingatkah sahabat: Dipagi itu alam memperlihatkan keindahanya,

melalui kepak sepasang sayap yang terbentang lebar dan luasnya.

Sang penguasa udara, gagah bermanufer mengendalikan angin,

terbang rendah lalu meninggi-mengawasi.

Melayang-mengawang diantara lembah dan jurang.

Sebuah Visual indah yang takkan pernah kalian lihat dan saksikan dilayar TV manapun,

disepanjang hidup kalian sebelumnya.

gambar Elang Margawindu

Bersyukurlah kita yang masih mengingat dan menyaksikan itu semua, mungkin kesempatan seperti itu takkan pernah ada lagi. Sebuah kisah yang akan bergema didada, dan terucap kala kita bersama.

Yach kisah kita (hanya kita),

6 manusia yang pernah disatukan tenda,

hanya diterangi purnama,

diatas tanah basah bumi pasundan,

diselimuti hijaunya perkebunan teh “Margawindu”.

Untuk kali pertama, namun bukan kali terakhir.

17 Jan 19 – A.R.A