Maria Dan Surat Cinta dari Penulis Misterius

Maria Dan Surat Cinta dari Penulis Misterius

gambar Berboncengan sepeda

Maria Dan Surat Cinta dari Penulis Misterius

Cerpen ini merupakan cerita fiksi karangan penulis semata, tidak ada jaminan cerita ini disadur dari pengalaman real penulis. Jika ada kesamaan nama, alamat dan karakter, semua hanya kebetulan semata.

Sebut namanya “Maria”. Seorang wanita asli kelahiran jawa timur, tepatnya di kota malang. Wanita yang bisa dikatakan sangat cantik, lembut tutur katanya, gemulai gerakanya, sangat identik sekali dengan wanita khas indonesia. Mungkin jika kalian bisa menilai untuk kecantikanya dari angka 1 hingga 10, maka kalian kaum pria kemungkinan akan memberinya nilai 7/8. Sangat sulit sekali bagi kaum pria untuk tidak menyukainya, namun tentu tidak bagi aku. Bukan dikarenakan ketidak normalan hasrat-ku terhadap kaum hawa, namun lebih cenderung dikarenakan “Prinsip” diri yang tidak bisa ditawar lagi (orang yang mengenalku tau pasti akan ini). 🙂

Sudah banyak sekali pria yang mencoba mendekati Maria ini, yang diketahui-ku sebut saja ada seorang pria paruh baya, dari suku yang identik dengan kaus bergaris merah putihnya atau senjata celuritnya. Ada pula, seorang pria dari daratan tanah merah, dengan keahlian khusus memijatnya. Namun dari kedua orang tersebut ternyata ada pria ketiga yang merupakan sahabat kami, sahabat yang akan menjadi pacar dari Maria ini kedepanya. Siapakah dia ? 🙂

Aku dan sepeda wanita berkeranjang produksi jepang
Maria, panggil saja “Mar“.
Entah mengapa dimalam itu, aku pergi ke titik point (tempat nongkrong) dimana kami biasanya berkumpul. Kami disini adalah Aku, Budi, Qimang, Udi, Dedi, Ida, Mame, “Ayah” dan Nama yang lainya yang tidak aku ingat dan tidak aku sebutkan.

Dimalam itu aku ketitik point tidak seperti biasanya yang berjalan kaki, kali ini aku mengendarai sepeda. Sebuah sepeda produksi jepang berwarna merah, sepeda yang khas digunakan para wanita dengan keranjang belanja didepanya, dilengkapi dengan lampu yang akan menyala dengan bantuan daya yang dihasilkan dari gaya kinetik atau gaya gesek yang datang dari sebuah dinamo yang letaknya berada di pinggir ban depan. Tentu kalian sudah mengetahuinya bukan.

Ajakan Mar yang mendadak dan mengejutkan
Aku dan mar sebenarnya tidaklah terlalu akrab, jarang sekali terlibat percakapan baik secara umum ataupun secara privasi. Sahabatku yang bernama Budi merupakan orang yang paling dekat dengan Mar ini, saat itu. Sifat budi yang mampu meledakan gelak tawa merupakan nilai lebih dimata para wanita, dan bukanlah hal yang sulit baginya untuk dekat dan akrab dengan wanita manapun. Setidaknya itu menurutku. 🙂

Saat menjelang aku tiba ditempat tongkrongan, setidaknya ada beberapa sahabatku disana Budi, Udi, Ayah, Qimang, Dedi, Mar, Ida dan lain sebagainya. Mereka duduk rapi berjejer di atas bangku panjang yang terbuat dari bilah-bilah kayu balok. Bangku ini ada 2 buah yang saling berhadap-hadapan. Dan tibalah aku disana dengan sepeda jepangku, tepat di samping bangku panjang itu. 🙂

Aku menyapa beberapa sahabatku disana, dan mulai memarkirkan sepedaku dengan memasang standart-nya. Namun ternyata sepedaku itu banyak peminatnya, lebih tepatnya ada beberapa orang yang meminjamnya untuk dimainkan dan dikayuh, disekitaran area situ saja tentunya.

Aku memindahkan pantatku dari sadel sepeda, menuju dataran bangku panjang itu, membaur dan menyatu dengan sahabat-sahabatku, mengobrol dan bercerita ngalor-ngidul, bercanda dan tertawa hingga beberapa waktu lamanya. Tak terasa kebosanan posisi menghantuiku, hingga aku pindahkan kembali pantat teposku dari bangku panjang itu kembali keposisi semulanya yaitu di atas sadel sepeda jepangku. Kukayuh sepeda itu sendiri menelusuri lorong jalan ini beberapa meter jauhnya dan lalu kembali lagi keposisi semula. Saat posisi sepedaku terhenti, entah darimana datangnya, tiba-tiba saja si mar duduk dibangku belakang sepedaku, kaget rasanya seperti tidak dapat dipercaya, akhirnya manusia setengah bidadari itu duduk dekat denganku, tepat disebelah belakangku. Yach begitulah angan-anganku. 🙂

Dari belakang Mar membisikan se-patah dua-patah kata, yang tentunya akan menjadi satu atau dua kalimat. Kalimat yang terdengar sahdu dan merdu tentunya. 🙂

Mar : Boncengin saya dong ke pasar.
Aku : Kepasar ? Mau beli apaan mar ?
Mar : Boncengin dan jalanin aja dulu sepedanya.

Dan sepeda kukayuhkan, sambil berjalan dia lanjutkan kembali kata-katanya.

Mar : Sebenarnya ada yang mau saya obrolin dan tanyain ? Kira-kira dimana yach yang enak ngomongnya..

Aku Pura-pura mikir, Padahal gak tau mau mikir apaan.
Sambil membatin dihati, kira-kira mau ngomongin apaan yach si mar ini ?

Aku : Ngobrol dijembatan aja mar, pinggir jalan raya, diujung pasar.
Entah kenapa malah tempat ini yang nongol dipikiranku dan sangat tidak lazim sekali tempatnya. 🙂

Mar : Ya Udah.

Aku dan Mar, berjalan satu sepeda dengan satu tujuan yang sama : Jembatan Pasar Kaget. :p

Selang beberapa waktu, tibalah kami berdua di jembatan pasar itu. Duduk diatas “Pipa Besi” jembatan berukuran lumayan besar. Namun tidak terlalu besar, hanya cukup untuk menopang separuh luas pantat kami.

Maria dan Pertanyaan dua pria satu nama.
Diatas pipa besi jembatan itu, obrolan kami berdua pun berlanjut kembali.

Mar : Saya dapat kiriman surat.
Aku : Surat apaan Mar ?
Mar : Surat cinta-lah, ada yang nembak saya.
Aku : Siapa ?

Mar : Gak tau orangnya, cuma namanya ada kata “Mang-mang”-nya ?

Aku mengernyitkan jidat, sambil berfikir sejenak. Akupun membatin, di tongkrongan ini nama orang yang berakhiran “Mang” ada 2 orang. Yang satu-nya si “Q-Mang” dan yang satunya lagi adalah namaku.
Tapikan bukan aku yang membuat surat itu ?
Dari nada pertanyaan yang diberikan olah Mar, sepertinya seakan tujuan pertanyaan itu condong ke arah aku yang menjadi pihak tertuduh.

Aku : Ada 2 orang Mar, tapi dengan satu nama yang sama atau mirip-mirip.
Yang pertama nama aku, tapi aku tidak merasa menulis surat itu. Berarti ?
Kemungkinan yang nulis surat buat kamu itu si “Q-Mang”

Mar : Qimang ??

Nasihat yang membantu atau menjerumuskan ?
Aku : Iya Qimang; Mar, itu loh yang orangnya pendiem di tongkrongan.
Mar : Kalo menurut kamu gimana Qimang orangnya ?

Aku : Qimang, Dia orangnya baik mar, pendiem. Walaupun dia belum kerja, tapi dia orangnya baik..

Setidaknya hanya kata-kata itu yang bisa aku berikan, sebagai nasihat atau referensi buat Mar mengambil keputusan dalam memberikan jawaban “diterima” atau “tidak-nya” si Qimang. Walaupun entah kenapa saya merasa apakah itu nasihat yang baik dan membantu atau justru menjerumuskan ?
Entahlah, biarlah waktu yang akan menjawabnya.

Keputusan yang tak terduga
Dan hari demi hari-pun berganti, hingga akhirnya kami semua yang ada di tongkrongan mengetahui bersama, bahwasanya Qimang resmi menjadi pacar dari Maria, Mereka Berpacaran. Yach setidaknya untuk saat itu.
Qimang pria sederhana yang sangat beruntung atau Mar wanita lugu yang kurang beruntung ?? Argh, Entah mengapa kini justru pertanyaan itu menggangguku saat ini !!

Ending kisah cinta “Maria dan Qimang” hanya kami (Boerack) yang mengetahuinya. (Maaf, Bukan untuk konsumsi publik).. :p

Margawindu : Disatukan Tenda dan Diiringi Tarian Elang (X Pertama)

Margawindu : Disatukan Tenda dan Diiringi Tarian Elang (X Pertama)

Pagi hari dimargawindu ada satu waktu yang membuatku tak dapat melupakanya, “ini tentang Kebersamaan Kita.”

Pagi merupakan awal hari, namun kita justru mengakhirinya, menutup pengembaraan pertama, bersama. Dan ingatlah ketika ada yang Pertama setidaknya mungkin ada yang “Kedua”, hanya kita saja yang tau itu semua.

Bukit dan jurang selalu mengawasi, lereng dan perkebunan teh menjadi saksinya. Saksi sejarah bahwa kita pernah bersama, disana.

Menggenapkan yang satu, Lalu mulai berhimpun. Menanggalkan gemerlapnya kota, serta berlari darinya.

Anehnya kita justru memilih memeluk alam, menjejakkan kaki di bumi pasundan.

Sebuah kota yang mahsur dengan senjata kujangnya, sebuah kerajaan yang pernah menjadi bagian kekuasaan prabu siliwangi sekaligus jatuh dalam pelukan kesultanan cirebon dibawah kepemimpinan syarif hidayatullah, pemimpin para wali kala itu.

Baiklah sahabat, Kita kembali ke paragraf pertama diatas.
Tahukah kalian moment apa yang tak bisa kulupakan ?
Bisa jadi kalian tidak setuju dengan pendapatku ini, itu semua bukanlah yang terpenting. Setidaknya ijinkan aku mengajak kalian mengingat kembali moment ini.

Gambar Elang Margawindu 2

Sumedang – Pagi yang mengawali hari, sekaligus menutup dan mengakhiri pengembaraan pertama kita yang penuh cerita.
Alam mengiringi niat kepergian kita, yang ternyata pergi untuk kembali lagi.

Ingatkah sahabat: Dipagi itu alam memperlihatkan keindahanya,

melalui kepak sepasang sayap yang terbentang lebar dan luasnya.

Sang penguasa udara, gagah bermanufer mengendalikan angin,

terbang rendah lalu meninggi-mengawasi.

Melayang-mengawang diantara lembah dan jurang.

Sebuah Visual indah yang takkan pernah kalian lihat dan saksikan dilayar TV manapun,

disepanjang hidup kalian sebelumnya.

gambar Elang Margawindu

Bersyukurlah kita yang masih mengingat dan menyaksikan itu semua, mungkin kesempatan seperti itu takkan pernah ada lagi. Sebuah kisah yang akan bergema didada, dan terucap kala kita bersama.

Yach kisah kita (hanya kita),

6 manusia yang pernah disatukan tenda,

hanya diterangi purnama,

diatas tanah basah bumi pasundan,

diselimuti hijaunya perkebunan teh “Margawindu”.

Untuk kali pertama, namun bukan kali terakhir.

17 Jan 19 – A.R.A

Berkunjung Ke Rumah Kawan Lama (Abidin)

Berkunjung Ke Rumah Kawan Lama (Abidin)

Siang hari itu adalah kunjungan kali kedua saya dengan budi ke rumah kawan lama yang biasanya kami panggil aki atau abidin. Saat kunjungan pertama kali kerumah abidin dibilangan daerah Bantar Gebang (tidak jauh dari jl. Raya Narogong) kami tidak menjumpai sang pemilik rumah namun hanya bertemu sebentar dengan istrinya saja, ternyata bidin saat itu sedang bekerja di daerah sunter tepatnya dijakarta utara.

Kali kedua berkunjung kami memastikan bahwasanya abidin sedang berada dirumah dan tidak bekerja, pertemuan ini adalah pertemuan untuk menjalin silahturahmi skaligus temu kangen dengan kawan dan sahabat lama kami.

Banyak sekali obrolan yang kami bicarakan bertiga disini, tentang perjalanan dan pengalaman hidup yang sempat tidak kami perbincangkan kembali selama beberapa tahun terakhir.

Apalah arti sebuah nama bagimu, tapi tidak bagi Ranggolawi

Apalah arti sebuah nama bagimu, tapi tidak bagi Ranggolawi

Ranggolawi adalah sebuah nama yang mewakili jiwa dan raga saya di dunia maya, jagat online atau dunia internet saat ini.
Nama ini saya buat bersamaan dengan email dan blog pertama saya di blogger.com, kini blog saya itu sudah dimiliki oleh orang lain. Sedih juga. 🙁

Ada beberapa nama yang mewakili saya, yaitu:
1. A.R.A adalah inisial nama asli saya.
2. Umang/omang adalah nama panggilan saya ketika bermain dimasa kanak-kanak, hingga teman teman bermain saya saat ini dan bahkan oleh sahabat-sahabat saya.
3. Vietkong, ini adalah nama candaan untuk saya ketika masih kecil, saat sekolah dasar, diadaptasi dari sebuah film perang antara amerika dan vietname (tentara vietkong), kalau tidak salah judul filmnya adalah “Tour of Duty”.
4. Slank, adalah nama panggilan saya di masa sma dahulu, dikarenakan saya mengidolakan group band slank pada saat itu.
5. Abdul adalah nama panggilan di masa kuliah saya dahulu di salah satu universitas swasta yang terkenal di depok.
6. Arif ini adalah nama panggilan yang digunakan oleh teman-teman kerja saya, pada beberapa perusahaan swasta dimana saya pernah bekerja, baik di jakarta atau di salah satu perusahaan di daerah bekasi tepatnya di lippo cikarang.
7. Ranggolawi adalah nama panggilan atau sebuah nama yang saya gunakan untuk berselancar di dunia maya, sebuah identitas atau nama panggilan yang saya khususkan untuk teman-teman, komunitas dunia internet saya, bahkan nama ini saya gunakan sebagai nama toko online yang saya miliki dan kelola.

Ada yang bilang apalah artinya sebuah nama. Itu mungkin bagimu, namun bagi saya (Ranggolawi) nama yang kalian berikan kepada saya adalah sebuah memory indah yang mewakili siapa kalian dan pandangan kalian terhadap saya.

Terima kasih untuk orang-orang yang sudah berkontribusi memberikan nama kepada saya, khususnya kedua orang tua saya, keluarga besar saya, keluarga kecil saya, teman bermain saya, temen sd, teman sma, teman kuliah, teman kerja, teman-teman dumay dan sahabat-sahabat saya. – ARA