Syair indah bagi pencari rejeki yang lelah

Syair indah bagi pencari rejeki yang lelah

Syair indah dari Abu Wahid Buhlul Ibn Umar Ibn al-Mughirah al-Majnun

kisah buhlul dan sang amir

Syair ini terdapat dalam buku “Uqala al-majanin” yang sudah diterjamahkan kedalam bahasa indonesia dengan judul “Kebijaksanaan Orang-orang Gila”.

Syair ini sepintas tertulis kata-katanya sangat sederhana, namun bagi sebagian orang kata-kata dalam syair ini sangatlah syarat dengan makna, nilai nasihat. Khususnya untuk mereka sang pencari rejeki.

Baiklah langsung saja berikut ini cuplikan syair dari Buhlul (Abu Wahid ibn Umar), seorang pria dari kufah.

Wahai pencari rejeki secara sungguh-sungguh di segala penjuru !

Apa kau telah melelahkan dirimu, hingga tak kuasa lagi berusaha ?

Engkau berusaha memperoleh rezeki,

Padahal Allah mencukupkanmu untuk mencari-Nya.

Duduklah! Rezeki berikut penyebabnya akan mendatangimu

Berapa banyak orang yang lemah akal yang kau kenal,

Tetapi mereka memiliki kekuasaan, rezeki, dan emas

Dan orang-orang terpandang yang memiliki akal,

Terlihat jelas kefakirannya, dan tak punya harta benda

Mintalah rezeki kepada Allah dari khazanahnya

Allah memberi rezeki di luar nalar dan perhitungan

Semoga syair diatas dapat memberikan nasihat, nilai keimanan dan keyakinan kita mengenai hakikat rezeki allah.

Semoga saja syair diatas dapat bermanfaat bagi kita semua yang meresapinya khususnya bagi diri pribadi penulis artikel ini, yaitu ranggolawi.

Terima Kasih. 🙂

Syair indah bagi pencari rejeki yang lelah

Kisah Buhlul dan Amir yang bersedih mendapatkan anak perempuan

Dikutip dari kitab “Uqala Al-Majanin”  di Terjemahkan ke dalam bahasa indonesia yaitu Buku Kebijaksanaan Orang-orang Gila – Hal 115.

Bakkar ibn Amir Al-Bashri berkata, “Kami dikabari oleh salah seorang penduduk Kufah bahwa salah seorang amir Kufah mendapatkan anak perempuan. Hal itu menyedihkanya. Sang Amir enggan makan dan menutup diri dari manusia.”
Disaat itu, Buhlul mendatangi penjaganya dan berkata, “Izinkan saya menemui Amir.”
Penjaga menjawab, “Tahukah kamu bahwa sang Amir sedang berduka ?!”
“Apa penyebab kesedihannya,” tanya buhlul.
“Istri beliau melahirkan bayi perempuan.” jawab penjaga.
“Inilah waktuku menjenguknya,” tukas buhlul. Lalu, pengawal mengizinkannya masuk.
Ketika Buhlul berhadapan dengan sang Amir, Buhlul bertanya, “Wahai Amir! Apa yang membuat Anda bersedih? Apakah Anda terkejut pada makhluk yang dihadiahkan oleh Allah? Apakah Anda lebih senang bila posisi bayi itu ditempati oleh lelaki sepertiku?”

Sang Amir tersenyum, “Sialan, kamu telah membuatku senang.”
Lantas, Amir kembali mau menyantap makanan dan mau berjumpa dengan orang lain.

My Notes:
Tahukan anda mengapa sang amir yang bersedih dikarenakan baru saja mendapatkan anak perempuan (Bukan anak laki-laki seperti harapanya) tiba-tiba menjadi senang dan hilang kesedihanya dikarenakan ucapan Buhlul ?

Lalu siapakah seseorang yang bernama Buhlul itu ?

Secara lembut ucapan buhlul telah menyadarkan sang Amir, bahwasanya kelahiran seorang anak merupakan hadiah dari Allah meskipun dia seorang wanita. Dan kembali Buhlul menyentil logika berfikir sang amir dengan berkata apakah sang Amir lebih menyukai seorang anak lelaki yang seperti dirinya (Buhlul).

Buhlul dikenal oleh masyarakat disekitarnya sebagai seseorang yang kurang kewarasanya atau bisa disebut gila, setidaknya penampilanya-lah yang membuat orang berfikir seperti itu. Namun pandangan itu tentunya tidak berlaku bagi orang-orang yang telah mengenal Buhlul.

Dengan perkataan Buhlul sang Amir dapat tersenyum kembali, menenggelamkan kesedihanya serta merubah dunianya yang tertutup menjadi terbuka.

Sejatinya perkataan Buhlul, adalah perkataan bijak yang membandingkan betapa indahnya hadiah pemberian dari allah berupa seorang anak perempuan yang tentunya tidak sebanding dan sebaik harapan manusia yang menginginkan seorang anak lelaki namun seumpama Buhlul yang “gila”. (Pandangan Masyarakat).

Bagaimana calon ayah atau calon ibu? apakah kalian masih ingin memaksakan kehendak untuk memiliki anak berdasarkan jenis kelamin yang kalian inginkan.
Dan ketika Allah memberikan hadiah seorang anak dengan jenis kelamin yang tidak sesuai kehendak kalian, lalu kalian bersedih?

Saya akan mengutip sebuah ayat.
“Boleh jadi, kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah yang paling mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah:216)

BY A.R.A – 15 Jan 2019